Refleksi akan Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus

foot at cross

 

Refleksi akan Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus +

Penderitaan mendalam yg terjadi di taman adalah sungguh kesakitan pada PikiranNya yang menyebabkan Ia berkeringat darah. Ia menderita sengsara pada Pikiran dan TubuhNya. Sengsara mental dan fisik semacam itu sesungguhnya saling memperhebat penderitaan keduanya.

Pada pusat dari seluruh penderitaanNya,terdapat satu hal yang sangat ditakuti oleh semua manusia: penolakkan. Ia dikhianati oleh Yudas, disangkal oleh Petrus, dan ditinggalkan oleh para Rasul; yaitu orang-orang yang Ia pilih sendiri sebagai orang-orang terdekatNya. Ia mengalami penolakan paling keras dari mereka yang meletakkanNya pada salib. Mereka tidak hanya menginginkanNya mati, tapi mereka juga menginginkanNya untuk menderita. Mereka bukan hanya menganggap Ia tidak bernilai, mereka menganggap Ia lebih rendah dari tidak bernilai! Dan semua ini tidak terjadi sekejap saja. Ia merasakan secara penuh penolakan tersebut di setiap penderitaan fisik yg Ia rasakan.

Oleh karena itu kita berterima kasih kepadaNya yang telah ikut serta dalam perjalanan manusiawi kita, dan bahkan memilih untuk mengalami apa yg paling kita takuti.

Kita berterima kasih kepadaNya karena telah bertahan dalam penangkapan dan kekejaman dari para penjaga dan Sanhedrin. Kita berterima kasih kepadaNya karena telah bertahan dalam kekejaman Pilatus yang lebih memilihNya untuk dieksekusi daripada membahayakan karir politiknya, dan dari kekejaman Herodes yang ingin dihibur dengan memintaNya melakukan mukjizat. Kita berterima kasih kepadaNya untuk seluruh waktu yang Ia habiskan untuk memuaskan kesenangan mereka yang menyiksaNya, dengan menunda penghabisan KematianNya. Kita berterima kasih kepadaNya untuk kegelisahan yang Ia rasakan saat malam berada di penjara.

Pagi berikutnya, Ia didera secara brutal dengan kekerasan yang luar biasa hingga membuatNya tampak seperti orang lanjut usia hanya dalam hitungan menit. Luka-lukaNya membasahi seluruh TubuhNya. Kehilangan banyak darah tidak hanya membuatNya sangat lemah; namun juga mengakibatkan sakit kepala teramat sangat yang berlangsung selama penyiksaan.

Kita berterima kasih kepadaNya untuk hal tersebut, dan untuk penghinaan yang Ia terima saat mereka mengenakan jubah ungu padaNya dan meletakkan dengan paksa mahkota duri yang menusuk-nusuk dan memperparah sakit kepalaNya. Mereka menutup mataNya dan menamparNya, memaksaNya untuk menerka siapa yang memukulNya. Mereka meludahiNya dan menghajarNya.

Ia berdiri di pretorium dalam kondisi sangat memalukan bagi para kerumunan, walaupun sesungguhnya Ia berdiri dalam kondisi sangat mulia : Allah yang maha mulia, dipersembahkan bagi semua orang yang pernah menderita penolakkan, menyertai dalam saat-saat penderitaan mereka. Di sanalah tempat Ia dijatuhi hukuman mati lewat salib. Secara fisik, Ia nampak sangat mengenaskan. Ia menunjukkan kepada St.Bernard bahwa memikul salib adalah penderitaanNya yang paling menyakitkan. Ia sangat lemah dan kesulitan berjalan. Muak dan haus, Ia merasakan beban salib di bahuNya hampir tak tertahankan. Beban itu meremukkan bahuNya. Tidaklah mengherankan bahwa Ia jatuh di jalanan berbatu yang dikotori oleh kotoran binatang, dengan salib yang menimpaNya. Dan setiap kali terjatuh, Ia selalu bangkit kembali.

Hanya lewat bantuan Simon dari Kirene lah Ia mampu mencapai puncak gunung Kalvari. Di sana mereka memakukan otot telapak tanganNya dengan paku, yang mengakibatkan bagian atas TubuhNya mengalami kesakitan yang luar biasa. Paku di kakiNya menyebabkan sakit luar biasa ke seluruh saraf sensitif yang terletak pada kaki. Saat salib telah berdiri, kedua tanganNya yang tertarik ke dua sisi berbeda mengakibatkan paru-paruNya menyempit, dan Ia mulai tersengal-sengal karena kekurangan oksigen. Sehingga Ia harus mendorong TubuhNya ke atas untuk mengisi paru-paru dengan udara, dengan kakiNya yg terpaku sebagai tumpuan. Hal ini membutuhkan usaha yang sangat luar biasa karena Ia sudah sangat lemah. Namun Ia masih mampu bertahan dalam usaha semacam itu selama tiga jam yang penuh dengan kesakitan mendalam yang terus meningkat seiring dengan TubuhNya yang semakin lama semakin lemah.

Pada akhir jam ketiga, penderitaanNya yang luar biasa telah mencapai puncaknya. Ia telah sampai pada tahap dimana tenagaNya habis dan Ia kesulitan bernapas. Dalam saat-saat abadi ini kala Ia wafat, Ia memberikan kepada kita HidupNya. Melewati batas ruang waktu, saat-saat cinta ilahi ini dipersembahkan kepada kita di dalam tabernakel di seluruh dunia.

Terima kasih Tuhan. Kami menyembah Dikau Ya Tuhan dan bersyukur kepadaMu. Dengan Salib SuciMu, Engkau telah menebus dunia.

Sumber : forums.catholic.com

Tag:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: