Menjadi Orang Kudus

comm_of_saints1

 

Menjadi Orang Kudus
Oleh: Matt Fradd

Suatu ketika Leon Bloy pernah menulis,”Satu-satunya kesedihan yang nyata, satu-satunya kegagalan yang nyata, satu-satunya tragedi besar dalam hidup, adalah untuk tidak menjadi santo/santa (orang kudus).”

Mengapa? Karena untuk menjadi apapun yg kurang dari (baca:menjadi) kudus adalah untuk tetap (baca:berada dalam kondisi) tidak teraktualisasi.

Ilustrasi berikut akan membantu : Katakanlah anda pergi keluar dan membeli pot bunga yang berisi satu biji bunga daffodil yang ditanam dalam tanah yang baik. Anda mengambil pot tersebut, meletakkannya di dalam lemari, dan selama dua minggu kedepan hanya menyiraminya dengan minuman bersoda.

Ini adalah kisah yg menyedihkan, namun mengapa disebut menyedihkan? Bukankah karena potensi dari biji itu untuk menjadi bunga daffodil yang cantik tidak teraktualisasi? Untuk menjelaskannya dengan lebih sederhana, bahwa biji tersebut tidak menjadi sesuatu sebagaimana seharusnya?

Begitu juga dengan kita.

Anda dan saya mempunyai potensi akan kemurnian, akan kekudusan, yang secara sederhana dapat dikatakan, kemampuan untuk mencapai puncak pribadi kita.

Kekudusan

Banyak orang percaya, secara implisit, bahwa untuk menjadi kudus adalah untuk menjadi terikat, lebih tidak bebas, lebih tidak menyerupai diri mereka sendiri. Mereka menganggap bahwa neraka lah yang berujung pada surga, dan surga lah yang berujung pada neraka.

Sebagai umat Kristiani, adalah sangat penting untuk memahami hal tersebut sebagai kesalahan fatal.

Tuhan adalah baik. Ia tidak menahan apapun untuk diriNya sendiri – seperti yang dibisikkan oleh Setan kepada Hawa (Kejadian 3:1-5) – Ia adalah untuk kita semua (Roma 8:31). Ia adalah Kasih (Yohanes 4:8,16).

Dalam kalimat dari lagu milik Mumford and Sons :

Cinta; ia tidak akan mengkhianatimu
Mencemaskan atau memperbudakmu, ia akan membebaskanmu
(Engkau akan) menjadi lebih seperti dirimu sebagaimana engkau ditakdirkan.

Keinginan

Tuhan berkehendak untuk memberikan anda “keinginan hatimu” (Mazmur 37:4). PerintahNya kepada anda untuk menjadi kudus sesungguhnya adalah sesuatu yang anda inginkan untuk terjadi (teraktualisasi), oleh sebab itu perintahNya tidaklah menekan dengan paksa keinginan terdalam anda, sebaliknya justru memanggilnya untuk berkembang.

C. S. Lewis memahami betul hal ini, sebagaimana dituliskannya :

Sesungguhnya Tuhan kita melihat bahwa keinginan kita tidaklah kuat, melainkan sangat lemah. Kita adalah makhluk yang setengah hati, membodohi diri dengan minuman keras dan seks dan ambisi, disaat kebahagiaan abadi ditawarkan kepada kita, seperti anak kecil polos dan lugu yang lebih menginginkan untuk bermain lumpur karena ia tidak dapat membayangkan apa yang dimaksud dengan penawaran berlibur di pantai. Kita sangat terlalu mudah merasa nyaman.

Anda mungkin berpikir,”Bagaimana jika apa yang saya inginkan adalah sesuatu yang destruktif dan dosa? Apakah Tuhan menginginkan saya untuk berdosa?” Tentu saja tidak. Namun sangatlah penting untuk disadari (dan perlu dipahami secara benar) bahwa apa yang kita cari dalam dosa sesungguhnya kita temukan pada Tuhan, seperti yang ditulis oleh St.Thomas Aquinas, “Tidak ada kejahatan yang dapat diinginkan, baik oleh selera kodrati ataupun oleh kehendak sadar. Hal tersebut diinginkan secara tidak langsung, karena adanya konsekuensi dari beberapa hal yang baik.” Atau, seperti seorang bijak (mungkin G.K.Chesterton) pernah berkata, “Setiap pria yang mengetuk pintu rumah pelacuran sesungguhnya sedang mencari Tuhan.”

Menjadi Orang Kudus

Jika pikiran untuk menjadi orang kudus, untuk menjadikan potensi anda teraktualisasi, terasa tidak mungkin, semoga kata-kata dari Peter Kreeft berikut bisa menenangkan anda :
Anda dapat menjadi orang kudus. Sungguh-sungguh tidak ada seorangpun atau apapun yang dapat menghentikanmu. Itu adalah pilihan bebasmu. Berikut ini adalah salah satu kalimat yang paling jujur dan paling menakutkan yang pernah saya baca (dari buku Serious Call karya William Law): “Jika anda melihat ke dalam hatimu dengan sejujur-jujurnya, anda harus mengakui bahwa hanya benar-benar ada satu alasan mengapa anda bukan seorang kudus, yaitu: anda sama sekali tidak menginginkannya.” Anggapan tersebut sangatlah menakutkan karena merupakan suatu tuduhan. Namun di saat bersamaan secara mengejutkan penuh harapan, karena merupakan suatu tawaran, suatu pintu yang terbuka. Kita semua mampu menjadi orang kudus. Kita sungguh-sungguh mampu.

Dalam kata-kata Patrick Coffin : “Jadilah orang kudus! Apa lagi yang tersisa selain itu?”

Sumber : http://www.catholic.com

Tag:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: