Mereka Melihat dan Percaya: Refleksi untuk Hari Minggu Paskah

Mereka Melihat dan Percaya

Oleh : Scott Hahn
Kisah Para Rasul 10:34, 37-43
Mazmur 118:1-2, 16-17, 22-23
Kolose 3:1-4
Yohanes 20:1-9

Yesus tidak tampak dimana-mana. Namun Injil hari ini mengatakan kepada kita bahwa Petrus dan Yohanes “melihat dan percaya.”

Apakah yang mereka lihat? Kain kapan terletak di tanah pada kubur yang kosong. Mungkin hal tersebut meyakinkan mereka bahwa kubur Yesus tidak dimasuki pencuri, yang biasanya mencuri kain linen yang mahal dan meninggalkan jenazahnya.

Namun perhatikanlah pengulangan kata “kubur” – tujuh kali dalam sembilan ayat. Mereka melihat kubur yang kosong dan mereka percaya akan apa yang Ia telah janjikan : bahwa Tuhan akan membangkitkanNya pada hari ketiga.

Ditunjuk untuk menjadi saksi-saksiNya, Bacaan Pertama hari ini mengatakan kepada kita bahwa Para Rasul “ditugaskan…untuk memberitakan…dan bersaksi” kepada seluruh bangsa bahwa mereka telah menyaksikan – dari pengurapanNya oleh Roh Kudus di sungai Yordan hingga ke kubur yang kosong.

Melebihi pengalaman mereka sendiri, mereka diperintahkan di dalam misteri ekonomi ilahi, rencana keselamatan dari Tuhan, yaitu untuk mengetahui bagaimana “semua nabi bersaksi” tentang Dia (Lukas 24:27,44).

Sekarang mereka dapat “memahami Kitab Suci,” dapat mengajarkan kepada kita apa yang telah dikatakanNya kepada mereka – bahwa Ia adalah “Batu yang dibuang tukang-tukang bangunan,” yang mana didalam Mazmur hari ini dinubuatkan tentang Kabar Gembira dan KebangkitanNya (lihat Lukas 20:17;Matius 21:42;Kisah Para Rasul 4:11).

Kita adalah anak-anak dari para saksi dalam jalur apostolik. Itulah sebabnya kita masih berkumpul pagi-pagi pada hari pertama setiap minggunya, untuk merayakan perayaan kubur yang kosong ini, bersyukur atas “Kristus yang adalah hidup kita,” seperti yang disebutkan dalam Surat kepada Jemaat di Kolose hari ini.

Dibaptis kedalam kematian dan KebangkitanNya, kita memperoleh hidup ilahi dari Kristus yang bangkit, hidup kita “tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Saat ini kita adalah saksiNya juga. Namun kita bersaksi atas sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu sesuatu yang hanya bisa kita percayai; kita memikirkan perkara yang ada di atas, bukan di bumi.

Kita hidup dalam peringatan akan kesaksian Para Rasul, sama seperti mereka kitapun makan dan minum bersama dengan Kristus yang bangkit di altar. Dan kita menunggu dalam harapan akan apa yang disampaikan oleh Para Rasul kepada kita tentang apa yang akan datang, yaitu hari dimana kita juga “akan tampak bersama denganNya dalam kemuliaan.”

Sumber : http://www.salvationhistory.com

Sengsara : refleksi Sengsara Kristus

Sengsara

Oleh : Scott Hahn
Yesaya 50:4-7
Mazmur 22:8-9, 17-20, 23-24
Filipi 2:6-11
Lukas 22:14-23:56

“…apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi,” kata Yesus dalam Injil hari ini (lihat Lukas 22:37).

Kita telah mencapai klimaks dari tahun liturgi, puncak tertinggi dari sejarah keselamatan, dimana semua yang telah dijanjikan akan digenapi.

Saat Bacaan Injil yang panjang hari ini berakhir, pekerjaan penebusan kita akan terselesaikan, perjanjian yang baru akan ditulis dalam darah dari TubuhNya yang hancur yang tergantung di kayu salib di tempat yang disebut Tengkorak.

Dalam SengsaraNya, Yesus “terhitung di antara pemberontak-pemberontak,” seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya (lihat Yesaya 53:12). Ia ditampilkan secara definitif sebagai Hamba yang Menderita yang disebutkan oleh nabi, Mesias yang telah lama ditunggu yang perkataan ketaatan dan imannya dibacakan dalam Bacaan Pertama dan Mazmur hari ini.

Celaan dan siksa yang kita dengar dalam dua bacaan ini menjelaskan Injil tentang Yesus yang dihajar dan diejek (lihat Lukas 22:63-65;23:10-11,16), tangan dan kakiNya dipaku (lihat Lukas 23:33), musuh-musuhNya mengundi pakaianNya (lihat Lukas 23:34), dan tiga kali mereka menantang Ia untuk membuktikan keilahianNya dengan menyelamatkan diriNya dari penderitaan (lihat Lukas 23:35,37,39).

Ia tetap teguh kepada kehendak Allah hingga akhir, tidak memalingkan diri dari pencobaanNya. Ia memberikan diriNya sendiri secara sukarela kepada para penyiksaNya, percaya bahwa “…Tuhan ALLAH menolong aku, … aku tidak akan mendapat malu.”

Dilahirkan dalam dosa dan kematian akibat ketidakpatuhan Adam, kita telah dibebaskan menuju kekudusan dan hidup oleh ketaatan sempurna Kristus pada kehendak Bapa (lihat Roma 5:12-14,17-19;Efesus 2:2;5:6).

Karena itulah Tuhan memuliakanNya. Karena itulah kita memiliki keselamatan dalam NamaNya. Mengikuti contohNya akan ketaatan dengan rendah hati dalam pencobaan dan salib hidup kita, kita mengetahui bahwa kita tidak akan diabaikan, bahwa suatu hari kita juga akan ada bersama-sama dengan Dia di Firdaus (lihat Lukas 23:42).

Sumber : http://www.salvationhistory.com

Sesuatu Yang Baru : refleksi untuk Hari Minggu ke-5 Masa PraPaskah

Sesuatu Yang Baru

Oleh : Scott Hahn
Yesaya 43:16-21
Mazmur 126:1-6
Filipi 3:8-14
Yohanes 8:1-11

Liturgi selama masa PraPaskah ini telah menunjukkan kepada kita, Allah dalam Keluaran. Ia adalah Tuhan yang sangat luar biasa dan pemurah, yang karena teguh memegang perjanjianNya telah melakukan banyak pekerjaan luar biasa bagi orang-orangNya, seperti yang dibacakan dalam Mazmur hari ini.

Namun “hal-hal yang dahulu,” yang dikatakan Yesaya dalam Bacaan Pertama hari ini, tidaklah sebanding dengan “sesuatu yang baru” yang akan Ia lakukan di kemudian hari.

Bacaan Pertama dan Mazmur hari ini melihat kembali perkara-perkara besar yang telah berlangsung dalam Keluaran. Dalam Keluaran, keduanya melihat sebuah pola dan bayangan akan masa depan, dimana Tuhan akan akan memulihkan umatNya yang jatuh dalam dosa. Bacaan-bacaan hari ini menantikan akan suatu Keluaran yang jauh lebih besar, dimana Tuhan akan mengumpulkan suku-suku Israel yang telah tercerai-berai ke empat penjuru, ke ujung-ujung dunia.

Keluaran yang baru yang dinantikan dan diharapkan oleh Israel telah datang lewat kematian dan kebangkitan Yesus. Sama seperti wanita yang tertangkap berzinah dalam Injil hari ini, semua orang telah dikecualikan oleh kasih Allah. Semua telah diperdengarkan firman pengampunanNya, ajakanNya untuk bertobat, untuk tidak lagi menjadi pendosa. Seperti Paulus dalam Bacaan Kedua hari ini, Kristus telah menjadikan kita milikNya, menjadikan setiap orang yang percaya sebagai anak dari Bapa surgawi kita.

Dalam Gereja, Tuhan telah membentuk orang-orang bagi diriNya untuk memberitakan kemashyuranNya, seperti yang dikatakan oleh Yesaya. Dan seperti Yesaya telah janjikan, Ia telah memberi minum umat pilihanNya di padang gurun dan sungai-sungai belantara (lihat Yohanes 7:37-39).

Tetapi Tuhan kita adalah Tuhan masa depan, bukan masa lalu. Kita haruslah hidup dengan hati yang penuh harapan, “melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,” seperti yang Paulus katakan kepada kita. Keselamatan dariNya ada pada “kuasa kebangkitanNya.”

Kita hidup dengan menanti suatu Keluaran baru yang jauh lebih besar, mengejar “tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus,” berusaha keras dalam iman untuk memperoleh hal terakhir yang Tuhan janjikan – “supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”

Keluaran yang ‘baru’

Keluaran bangsa Israel dari Mesir ada sebagai pendahuluan pada setiap bacaan dalam Liturgi Sabda bulan ini.

Keluaran meyakinkan bangsa Israel bahwa mereka adalah umat pilihan Allah. Yang membuat gentar bangsa lain karena Tuhan sendiri telah menyertai bangsa Israel dalam masa pencobaan (lihat Keluaran 15:11-16).

Selanjutnya dalam sejarah, saat bangsa Israel melalui dosa telah jatuh dalam penangkapan dan pengasingan, para nabi memprediksikan sebuah ‘Keluaran baru,’ dipimpin oleh seorang Mesias, Musa yang baru yang akan memulihkan mereka sekali lagi sebagai kerajaan kudus (lihat Yesaya 10:25-27; 11:15-16; 51:9-11). Yeremia memprediksi bahwa Keluaran yang baru ini akan menandai permulaan dari “Perjanjian Baru” (lihat Yeremia 23:7-8; 31:31-33).

Dalam bacaan hari Minggu ke-2 masa Prapaskah (putaran C), kita melihat Yesus yang diharapkan sebagai Musa yang baru, membebaskan umat Allah dari musuh terakhir – dosa dan maut – dan memimpim mereka ke tanah terjanji yaitu Surga. Dan seperti yang dikatakan Paulus dalam Bacaan Kedua minggu ke-3 masa PraPaskah, peristiwa Keluaran – menyeberangi Laut Merah, manna dari surga, air dari batu – adalah tanda-tanda bagi sakramen-sakramen Gereja.

Sumber : http://www.salvationhistory.com

Perempuan, Ciptaan Tuhan yang Terakhir

mary-baby-jesus

Perempuan, Ciptaan Tuhan Yang Terakhir
Oleh : Richard Salbato

Untuk memahami teologi perempuan, kita harus kembali pada bagian pertama Kitab Suci, yaitu Kitab Kejadian.

Pada hari pertama penciptaan, Tuhan menciptakan cahaya,”Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
Ada dua hal yang menarik dari ayat ini, pertama yaitu Ia tidak menyebutkan bahwa gelap adalah baik, dan hanya gelap lah satu-satunya yang tidak disebut baik. Yang kedua yaitu matahari,bulan,dan bintang belum diciptakan, lalu bagaimana mungkin ada siang dan malam seperti yang kita mengerti? Kita akan kembali lagi ke pertanyaan ini nanti.

Kemudian Tuhan menciptakan cakrawala, air, tanah kering, dan tumbuh-tumbuhan, dan kemudian matahari, bulan, bintang, lalu ikan, burung di udara, dan binatang, setelah itu pada hari ke-6 Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Laki-laki dan Perempuan diciptakanNya mereka.

Kemudian di bab ke-2 kita mendapati catatan kedua mengenai penciptaan manusia. Kejadian 2:7 ,”ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Kemudian Tuhan menciptakan taman Eden dan ditempatkanNya manusia itu disana, bersama dengan Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik dan Jahat. Lalu mengalir sungai yang terbagi menjadi empat cabang. Setelah itu Tuhan memerintahkan manusia itu untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan, “sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17)

Sampai saat itu Tuhan masih belum menciptakan Perempuan.

“Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” (Kejadian 2:21-22). Dan sejak saat itu Tuhan tidak pernah menciptakan apapun lagi. Hukum Termodinamika (sains yang telah terbukti) mengatakan bahwa semua materi tetap sama, dan semua energi tetap sama, oleh karena itu tidak ada sesuatu yang baru yang diciptakan, yang ada hanyalah perubahan bentuk, yaitu bentuk dari energi dan bentuk dari materi. Kesimpulannya, ciptaan terakhir yang Tuhan ciptakan sendiri (tanpa bantuan dari proses alami ataupun kerjasama manusia) adalah Perempuan.

Laki-laki mungkin bergurau bahwa Tuhan menyesal telah menciptakan Perempuan, dan oleh sebab itu Ia mengakhiri PenciptaanNya. Perempuan mungkin bergurau bahwa Tuhan sengaja menyisakan yang terbaik di akhir (yaitu penciptaan perempuan). Jawaban mengenai mengapa Tuhan menciptakan perempuan paling akhir akan menjelaskan siapa sebenarnya perempuan itu. Dan jawaban itu juga datang dari Kitab Suci.

Tuhan memberikan perintah kepada Adam, dan membiarkan Adam menamai semua binatang dan burung dan ikan dan tumbuhan. Namun Adam sendirian di bumi. Lalu Tuhan membuat Adam tidur nyenyak dan kemudian mengambil salah satu rusuk dari padanya untuk menciptakan Hawa. Tuhan menciptakan Hawa dari rusuk Adam. Dan Tuhan tidak menciptakan lagi apapun yang baru semenjak saat itu. Hal terakhir yang diciptakan Tuhan tanpa kerjasama proses alami adalah perempuan. Dengan cara yang sama Tuhan pada akhirnya menciptakan Gereja dari sisi (lambung) Kristus (Yohanes 19:34), hal ini akan disinggung lagi nanti.

Banyak perdebatan oleh para ahli teologi bahwa perempuan memiliki posisi yang lebih rendah dari pria. Lagipula perempuan tidaklah diperkenankan untuk berada di dalam Ruang Maha Kudus. Mereka tidak diperkenankan untuk menjadi imam. Mereka tidak boleh berbicara di dalam Gereja. Mereka dirajam jika berzinah, sementara tidak demikian dengan pria. Dalam Matius 14:21 dan Matius 15:38 laki-laki masuk dalam hitungan, sementara perempuan dan anak-anak tidak. Paulus mengatakan bahwa perempuan harus mengenakan kerudung di dalam Gereja, atau kepalanya harus dicukur. Sekilas terlihat perempuan adalah umat Kristiani kelas ke-2.

Jika para ahli teologi ini benar, maka mereka benar mengenai alasan kerudung. Paulus mengatakan bahwa saat berada di dalam Gereja, perempuan harus menudungi kepalanya di hadapan Tuhan. Banyak yang berpikir bahwa alasan untuk itu adalah sebagai ungkapan kerendahan hati, dan itu adalah alasan yang baik. Kebanggaan seorang wanita terletak pada penampilannya. Bahkan jika ia seorang yang sangat sederhana, kerendahan hati yang melebihi kesederhanaannya membuat ia justru lebih cantik bagi laki-laki. Perempuan menyadari ini secara tidak sadar, dan kerendahan hati memberikan mereka suatu kebanggaan. Untuk alasan ini, mereka mengatakan bahwa Paulus menuntut untuk menutupi kebanggaan yang salah.

Di sisi lain, pria tidak memperoleh kebanggaan dari suatu tindakan kerendahan hati, karena kebanggaan mereka tidak terletak pada penampilan, namun pada kepercayaan diri. Seorang pria, bahkan yang sangat tampan, yang tidak memiliki kepercayaan diri tidaklah menarik bagi wanita.

Ini adalah alasan yang baik, namun bukanlah alasan yang sesungguhnya mengenai kerudung. Dalam Kitab Suci, apakah yang ditudungi (diberi kerudung) ? Tabut Perjanjian ditudungi karena diperintahkan oleh Tuhan. Meja Altar tempat Tabut Perjanjian diletakkan juga ditudungi atas perintah Tuhan. Semuanya, cawan, mangkuk, peralatan, Ruang Maha Kudus, pintu, bahkan keseluruhan tenda, semua yang suci bagi Tuhan diberi kerudung. Bagi Tuhan, apa yang suci haruslah ditudungi. Lalu mengapa wanita ditudungi?

Perempuan adalah tabernakel penciptaan. Tuhan dan wanita bekerja bersama untuk menciptakan seorang manusia dalam gambar dan rupa Allah yang tidak akan mati. Hanya wanita lah yang dapat mencipta bersama dengan Tuhan. Hanya wanita, bahkan tidak juga malaikat, yang dapat memberikan Tuhan sebuah jiwa yang hidup. Hanya wanita yang ambil bagian dalam kekuatan kreatif Tuhan. Hanya wanita yang ambil bagian dalam penderitaan kreatif yang dialami Kristus. Wanita adalah suci bagi Allah, dan oleh sebab itu tidak akan pernah bisa menjadi pelayan sebagaimana pria. Wanita adalah suci, dan karena itu harus diperlakukan secara suci. Ia harus berpakaian kudus, dan dihormati, dan diperhatikan, sama seperti apapun yang kudus adanya.

Dalam kitab Talmud Yahudi (sebelum Babilon) engkau akan mendapati bahwa sepanjang sejarah Yahudi, wanita dihargai secara spesial, diperlakukan secara spesial. Mereka dihormati dengan kehormatan yang spesial. Mereka dilimpahi dengan pemberian, dengan semua pakaian dan barang yang spesial dan sangat mahal, sementara pria hanya mendapatkan apa yang tersisa. Sepanjang sejarah Yahudi sampai saat bangsa Romawi dan kaum Farisi mengambil alih, bangsa Yahudi memperlakukan wanita seperti sesuatu yang suci dan spesial.

Lantas, mengapa hukum mereka mengharuskan wanita untuk dirajam jika kedapatan berzinah? Di dalam seorang wanita, terdapat tabernakel yang sungguh sangat suci bagi Allah. Tabernakel ini memiliki satu-satunya hal yang diinginkan oleh Allah dari kita manusia, yakni jiwa yang tidak akan mati. Sama seperti cawan yang digunakan untuk Tubuh dan Darah Kristus. Jika cawan tersebut ternoda oleh karena suatu hal, makan cawan itu harus dihancurkan dan dikubur. Cawan itu tidak boleh dipergunakan lagi. Pria bukanlah cawan itu. Ia tidak lah suci.

Pria harus mengakui, bahwa wanita jauh lebih pintar daripada mereka. Wanita beranjak dewasa paling tidak sepuluh tahun lebih cepat daripada pria. Wanita jauh lebih sosial. Wanita lebih tangguh, paling tidak dalam menahan luka. Mereka hidup lebih lama. Mereka jauh lebih suci dalam kebanyakan kasus. Mereka lebih beradab. Dan bahkan wanita juga akan mengakui bahwa mereka jauh lebih cantik daripada pria. Malaikat sekalipun tidak dapat melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh wanita, yaitu menciptakan suatu jiwa yang hidup, seorang manusia. Segala yang berhubungan dengan wanita terdengar seperti ciptaan Tuhan yang paling hebat.

Pria diletakkan di atas wanita untuk menjadi otoritas bagi wanita. Terkadang terlintas alasan karena Tuhan tidak memberikan apa-apa lagi kepada pria, sehingga diberikanNya lah kepada pria satu hal yang dapat Ia beri, yaitu otoritas. Perlu diingat bahwa saat Kristus membasuh kaki para rasul, Ia berkata,”Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu.”(Yohanes 13:14). Ia yang adalah otoritas tertinggi adalah pelayan bagi yang lainnya. Pria memiliki otoritas agar ia dapat menjadi pelayan bagi keluarganya. Adalah tugas pria, sama seperti Imam Agung, untuk melindungi wanita dan anak-anaknya. Ia harus menyediakan penghidupan bagi mereka, melindungi mereka dari bahaya. Menghormati mereka dengan apapun yang bisa ia berikan. Wanita harus dibiarkan membesarkan dan mendidik anak-anak secara sosial, dan secara tidak langsung merawat dan menciptakan masa depan dunia.

Keluarga itu mirip seperti sekotak berlian. Pria adalah bungkus kotak yang membungkus segalanya untuk tetap bersama. Sementara wanita dan anak-anak adalah berlian nya. Saat bungkus kotak nya dibuka, berlian akan berserakan. Saat wanita ingin menjadi kotak nya, maka yang ada hanyalah dua kotak yang kosong. Kitab Suci memperhitungkan kotak nya, dan bukan berlian nya, karena Tuhan mencintai kesatuan unit keluarga.

Wanita patut mematuhi suaminya untuk alasan yang sama seperti prajurit patut mematuhi kapten atau atasannya. Ia harus memiliki otoritas itu dengan tujuan melindungi nyawa anak buahnya. Begitu juga dengan pria harus memiliki otoritas itu untuk melindungi keluarganya. Pria harus mengasihi istrinya sama seperti Kristus mengasihi GerejaNya, dan ini adalah misteri yang sangat besar, dalam hubungannya dengan Gereja. Apakah yang dimaksudkan oleh Paulus tentang misteri besar? Saat Allah meraih ke dalam hati Adam yang tertidur dan menarik keluar ciptaanNya yang terbaik (Kejadian 2:21-23), Ia memberikan bayangan akan saat-saat dimana Ia meraih ke dalam hati Kristus saat Ia ‘tertidur’, dan dari situ menciptakan GerejaNya (Yohanes 19:34). Pria harus mengasihi dan melindungi, memperlakukan wanita dengan cara yang sama seperti Kristus mengasihi GerejaNya, yang diciptakan dari HatiNya sendiri.

Perintah ke-4 dari Sepuluh Perintah Allah menuntut kita untuk mematuhi segala otoritas dalam segala hal kecuali dosa, karena segala otoritas datang dari Tuhan, bahkan otoritas yang buruk sekalipun. Begitulah pengajaran Gereja. Untuk keluarga, kita harus mencontoh keluarga terbaik sebagai panutan, yaitu Keluarga Kudus Nazareth. Yang paling kecil dan terakhir dalam keluarga, St.Yusuf, adalah yang paling tinggi dalam otoritas. Sementara yang terbesar, Kristus (Tuhan), adalah yang paling terakhir dalam otoritas. Maria yang merupakan ciptaan terbaik dan yang akan menjadi Ratu Surga dan Bumi, mematuhi Yusuf dalam segala hal. Maka marilah kita mengikuti contoh yang diberikan Kristus sendiri dalam mematuhi ibu kita.

Kristus berusia duabelas tahun saat Ia hilang dan tinggal di Bait Allah. Tiga hari kemudian orang tuaNya, yakni Yusuf dan Maria menemukanNya di dalam Bait Allah. “Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau. Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?””(Lukas 2:48-49, berada di dalam rumah Bapa juga memiliki arti lain,yaitu melakukan hal-hal/urusan milik Bapa). Kita tidak mengetahui apa jawaban Maria kepadaNya. Yang kita ketahui dari Kitab Suci hanya lah bahwa ” lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.”(Lukas 2:51).

Yang menarik disini yaitu Ia tidak lagi pergi untuk melakukan urusan BapaNya selama 18 tahun berikutnya.

Jadi apakah sesungguhnya yang Maria katakan padaNya? Kita mengetahui dari lukisan-lukisan karya St.Lukas bahwa Maria mengetahui betul kalau Yesus harus pergi melakukakn hal-hal/urusan BapaNya, dan salah satu hal tersebut adalah untuk menjadi domba kurban.

Maka 18 tahun kemudian, Maria datang kepada Kristus dan berkata, “Mereka kehabisan anggur.” Jawaban Yesus dalam bahasa Yunani adalah keseluruhan misteri dari wanita. Dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan langsung, kira-kira jawabanNya akan berbunyi, “Apakah antara Aku denganmu, perempuan?”. Dalam bahasa modern akan berbunyi, “Bagaimana dengan perjanjian di antara Aku denganmu.”

Dengan kata lain, 18 tahun sebelumnya, Maria berkata kepada Kristus sesuatu seperti berikut ini, walaupun bukan dalam kata-kata, “Anakku, Engkau selalu mematuhi perintah-perintahMu sebagai contoh bagi yang lain. Aku berharap Engkau untuk berpegang pada Perintah ke-4 dari Sepuluh Perintah Allah untuk menghormati orang tuaMu dan tidak pergi lagi untuk urusan BapaMu hingga aku mengijinkanMu.”

Dan 18 tahun berlalu, Kristus berbicara kepada ibuNya, “Apakah engkau sekarang mengijinkanKu untuk melakukan urusan BapaKu?”. Dengan air mata menggenang di matanya, Maria mengetahui bahwa ia tidak mampu menahanNya lebih lama lagi. Dan Maria berkata, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5). Setelah itu Kristus mengubah air menjadi anggur sebagai yang pertama dari tanda-tandaNya, dan mulai melakukan urusan BapaNya.

Kristus datang ke dunia dengan Maria berkata “Ya!” kepada malaikat. Tanpa “Ya!” Dari Maria, kita belum bisa diselamatkan. Tanpa Maria berkata, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, kita belum bisa diselamatkan.

Lihatlah Keluarga Kudus Nazareth. Yang pertama adalah yang terakhir, dan yang terakhir adalah yang pertama. Mereka yang memiliki otoritas adalah pelayan bagi yang mereka lindungi. Paus, Bapa Suci kita, secara resmi disebut sebagai ‘pelayan bagi para pelayan Tuhan’ (Inggris: servant of the servants of God – Latin: servus servorum Dei). Apa lagi yang kurang jelas dari contoh itu mengenai otoritas.

Jadi bagi anda wanita muda, angkatlah kepalamu tinggi, menyadari bahwa Tuhan menciptakanmu di akhir karena Ia menciptakanmu sebagai yang terbaik. Janganlah merasa janggal untuk berpakaian dengan baik, dengan keanggunan dan martabat dan kesopanan, sama seperti imam menghiasi altar Tuhan kita. Tubuhmu ini adalah suci bagi Tuhan, dan sepantasnya diperlakukan secara suci.

Bagi anda ibu dari anak-anak, angkatlah kepalamu tinggi, menyadari bahwa engkau menghadirkan ke dalam dunia satu-satunya yang diinginkan Tuhan dari ciptaanNya, jiwa hidup yang tidak akan pernah mati. Pria tidak ada hubungannya dengan hal ini selain menanamkan benih. Saat pria sudah beranjak, Tuhan mengerjakan keajaibanNya di tabernakel rahim anda dan menciptakan sebuah jiwa yang dapat Ia cintai selamanya.

Bagi anda pria muda, peluklah wanita dengan kekaguman. Saat engkau melihat matanya, pandanglah dengan hormat dan bahkan dengan semacam kecemburuan, menyadari bahwa engkau telah diberi perintah untuk menjaga mereka. Ketahuilah bahwa sebelum engkau diciptakan, Tuhan sudah mengenalmu, dan jika Ia menginginkan engkau untuk menikah, Ia sudah memilih pasangan hidup bagimu bahkan sebelum engkau lahir. Apabila engkau berzinah dengan seorang wanita, engkau tidak hanya melakukan dosa sakrilegi terhadap tabernakel penciptaan milik Allah, namun engkau juga berselingkuh dari seorang istri yang bahkan engkau belum temui. Sangatlah bijak bagimu untuk berkata kepada calon istrimu :
“Aku telah setia kepadamu sepanjang hidupku, bahkan sebelum aku bertemu denganmu, karena aku tahu bahwa Tuhan memilihmu untukku. Aku telah mencintaimu bahkan sebelum aku bertemu denganmu, dan akan tetap begitu di sisa-sisa hari dalam hidupku.”

Bagi anda para suami, ingatlah St.Yusuf. Ia adalah yang pertama dalam otoritas, namun yang terakhir di mata Allah dan dalam rahmat. St.Yusuf dipilih untuk menjaga dan merawat berlian, yaitu Maria dan Yesus. Engkau harus memperlakukan istrimu dengan hormat dan bahkan dengan kagum. Sediakanlah kebutuhan mereka, lindungi mereka, dan jangan pernah membiarkan anak-anak anda untuk memperlakukan istri anda dengan tidak hormat. Berdirilah saat mereka memasuki ruangan. Tunggulah mereka saat anda di meja makan. Pastikan bahwa mereka mendapatkan segala yang dibutuhkan dalam melakukan hal terbaik yang dapat mereka lakukan, yaitu mensosialisasikan dunia. Wanita adalah sosial, sementara pria adalah binatang. Wanita mencintai dan merawat, pria adalah petarung; dan sudah seharusnya pria seperti itu, karena dengan cara itulah pria melindungi ‘berliannya’.

Pada tahap ini, mari kita kembali pada bagian yang sempat kita bicarakan di awal, yaitu pada hari pertama Penciptaan. Tuhan menciptakan terang dan Ia melihat terang itu baik. Lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap, tetapi Ia tidak menyebut bahwa gelap itu baik. Kegelapan ini (tidak sama dengan gelap dari siang dan malam) adalah satu-satunya dalam penciptaan yang tidak disebut baik oleh Tuhan. Ia belum menciptakan bintang, bulan, dan matahari. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kita menemukan jawabannya di Kitab Wahyu 11:19 dan 12:1.

“Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”

Sebelum bumi diciptakan, Tuhan menciptakan terlebih dahulu malaikat, dan Ia memberikan mereka satu ujian. Ia menunjukkan kepada mereka sebuah tanda (bukan hal sesungguhnya, tapi pertanda tentang apa yang akan datang), tabut yang akan membawa PuteraNya, seorang wanita yang berselubungkan segala rahmat. Dan Setan memberontak terhadap pertanda ini, lalu seperti kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat, “Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.” (Wahyu 12:4). “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” (Wahyu 12:17).

Perempuan tidak memiliki benih, namun di Kejadian 3:15 Tuhan mengatakan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya.” Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk ‘keturunan’ adalah ‘zara’ yang lebih tepat diartikan sebagai ‘benih’. Iblis tidak memiliki benih, begitu juga dengan wanita. Hanya pria yang memiliki benih. Namun dalam hal ini Kristus lahir ke dunia tanpa campur tangan pria, dan oleh sebab itu semua anak-anak Allah datang dari Maria tanpa bantuan (benih) seorang pria. Anak-anak (benih) Maria adalah mereka yang menjaga dan mematuhi perintah Puteranya, dan benih Setan adalah mereka yang melanggar perintah Puteranya. Salah satu perintahNya yaitu untuk menghormati (dalam bahasa Ibrani :kabed) ayah dan ibumu. ‘Kabed’ dalam bahasa Ibrani adalah jenis penghormatan yang berbeda dengan ‘hadar’, karena ‘kabed’ hanya diperuntukkan kepada Tuhan,ayah,dan ibu saja (salah satu penggunaan ‘kabed’ adalah pada Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”). Kabed’ artinya penghormatan yang tinggi, memuliakan dan memuja. Kita harus memperlakukan istri dan ibu kita dengan sangat hormat, sama seperti sikap kita jika berhadapan dengan Tuhan, atau saat kita berhadapan dengan Cawan Suci yang membawa darah Kristus, karena perempuan adalah cawan suci penciptaan.

Sumber : http://www.unitypublishing.com

Ditemukan Hidup Kembali : refleksi untuk hari Minggu ke-4 masa PraPaskah

prodigal_son

Ditemukan Hidup Kembali

Oleh : Scott Hahn
Yosua 5:9-12
Mazmur 34:2-7
2 Korintus 5:17-21
Lukas 15:1-3, 11-32

Dalam Bacaan Pertama hari ini, Tuhan telah ‘menghapuskan cela Mesir itu’ dari generasi bangsa Israel yang mengeluh terhadapNya dalam Keluaran. Sementara berkemah di Gilgal, Israel dapat merayakan Paskah dengan hati yang bersih, pesta perayaan anak sulung Allah (lihat Yosua 5:6-7; Keluaran 4:22; 12:12-13).

Pendamaian juga ada dalam jantung kisah yang diceritakan oleh Yesus di Injil hari ini. Cerita tentang anak yang hilang adalah kisah bangsa Israel dan juga umat manusia. Tetapi juga merupakan kisah setiap orang percaya.

Dalam Pembaptisan, kita diberikan hak yang ilahi sebagai anak-anak Allah, kita dibuat menjadi “ciptaan baru,” seperti yang dikatakan Paulus dalam Bacaan Kedua hari ini. Namun saat kita berdosa, kita layaknya anak yang hilang, keluar dari rumah Bapanya, menghabiskan dengan sia-sia warisan yang kita terima dalam berusaha hidup tanpa Dia.

Tersesat dalam dosa, kita memutuskan diri kita dari rahmat sebagai anak Allah yang dianugerahkan dengan berlimpah kepada kita dalam Pembaptisan. Masihlah mungkin bagi kita untuk menyadari dan berpikir sehat, kembali pada jalan kita menuju Bapa, sama seperti yang dilakukan oleh anak yang hilang.

Namun hanyalah Dia yang dapat menghapuskan cela kita, memulihkan kembali hak sebagai anak-anak Allah yang telah kita sia-siakan. Hanyalah Dia yang dapat membebaskan kita dari perbudakan dosa yang menyebabkan kita – sama seperti anak yang hilang – melihat Allah bukan sebagai Bapa kita, tapi sebagai majikan/tuan kita, yang kita layani sebagai budak.

Tuhan tidak menginginkan budak, melainkan anak. Seperti sang ayah dalam Injil hari ini, Tuhan juga menantikan untuk memanggil kita “anak-Ku”, untuk membagikan KehidupanNya kepada kita, untuk mengatakan kepada kita : “Segala kepunyaanKu adalah kepunyaanmu.”
Kata-kata rindu dan kasih dari Bapa masih terus hadir kepada anak-anakNya yang hilang di dalam Sakramen Tobat. Ini adalah bagian dari apa yang hari ini Paulus sebut sebagai “pelayanan pendamaian” yang telah dipercayakan oleh Yesus kepada Para Rasul dan Gereja Katolik.

Setelah didamaikan seperti Israel, kita mengambil tempat kita di meja Perjamuan Ekaristi, jamuan dari Bapa atas kembalinya sang anak yang hilang, Paskah yang baru yang kita rayakan bersama seisi Surga. Kita mengecap kebaikan Tuhan, seperti yang kita nyanyikan di Mazmur hari ini, bergembira karena kita yang sudah mati telah ditemukan hidup kembali.

Sumber : http://www.salvationhistory.com

Buah Pohon Ara: refleksi untuk hari Minggu ke-3 Masa PraPaskah

figtree

Buah Pohon Ara

Oleh : Scott Hahn
Keluaran 3:1-8,13-15
Mazmur 103:1-4, 6-8, 11
1 Korintus 10:1-6, 10-12
Lukas 13:1-9

Dalam Gereja, kita diangkat menjadi anak-anak dari Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub – Allah yang menyingkapkan NamaNya dan JalanNya kepada Musa pada Bacaan Pertama hari ini.

Sadar akan perjanjianNya dengan Abraham (lihat Keluaran 2:24), Allah datang menyelamatkan orang-orangNya dari perbudakan orang Mesir. Setia kepada perjanjian yang sama (lihat Lukas 1:54-55, 72-73), Ia mengutus Yesus untuk menebus semua jiwa dari kehancuran, seperti yang diakatakan oleh Mazmur hari ini.

Pada Bacaan Kedua hari ini, Paulus berkata bahwa peristiwa penyelamatan oleh Allah dalam Keluaran dituliskan bagi Gereja, dimaksudkan sebagai pendahuluan dan bayangan akan Pembaptisan kita melalui air, pembebasan kita dari dosa, pemberian akan makanan dan minuman rohani.

Namum peristiwa dalam Keluaran juga diberikan sebagai “peringatan” – bahwa menjadi anak-anak Abraham tidaklah menjamin kita akan sampai pada keselamatan kita di tanah terjanji.

Di kesempatan apapun, Yesus mengingatkan kita dalam Injil hari ini, kita dapat binasa – bukan sebagai hukuman Allah karena kita menjadi “pendosa yang lebih berat” – tetapi karena seperti orang Israel di gurun, kita tersandung oleh keinginan jahat/buruk, jatuh menjadi penggerutu, dan melupakan semua kebaikan yang didapat dari Allah.

Yesus memanggil kita hari ini untuk “bertobat” – bukan sekedar perubahan hati sekejap saja yang meluap-luap, namun sebuah proses yang berlangsung terus-menerus, transformasi harian hidup kita. Kita dipanggil untuk menghidupi hidup yang kita nyanyikan dalam Mazmur hari ini – memuji NamaNya yang Kudus, bersyukur untuk kebaikan dan kasih sayangNya.

Pohon ara dalam parabel yang Yesus sampaikan, sangatlah serupa dengan simbol Perjanjian Lama tentang Israel (lihat Yeremia 8:3; 24:1-10). Seperti pohon ara yang diberikan satu kesempatan terakhir untuk berbuah sebelum ia ditebang, begitu juga dengan Yesus yang memberikan Israel saru kesempatan terakhir untuk menghasilkan buah yang baik sebagai tanda pertobatannya (lihat Lukas 3:8).

Sumber : http://www.salvationhistory.com

Kemuliaan Tuhan : refleksi untuk Hari Minggu ke-2 Masa PraPaskah

transfigurasi

Kemuliaan Tuhan
Oleh : Scott Hahn

Kejadian 15:5-12, 17-18
Mazmur 27:1,7-9, 13-14
Filipi 3:17-4:1
Lukas 9:28-36

Dalam Injil hari ini, kita diajak naik ke atas gunung bersama dengan Petrus,Yohanes,dan Yakobus. Di sana kita melihat ‘Transfigurasi’ Yesus, berbicara dengan Musa dan Elia mengenai ‘eksodus’Nya.

Kata Yunani untuk ‘exodus’ bermakna ‘keberangkatan'(departure). Namun kata eksodus sengaja digunakan disini untuk mengarahkan ingatan kita akan eksodus (Keluaran) bangsa Israel dari Mesir.

Oleh wafat dan kebangkitanNya, Yesus akan memimpin Eksodus (Keluaran) yang baru – membebaskan bukan hanya bangsa Israel namun seluruh bangsa dan manusia; bukan dari perbudakan Firaun, namun dari perbudakan dosa dan kematian. Ia akan memimpin semua umat manusia, bukan kepada tanah yang dijanjikan kepada Abraham pada Bacaan Pertama hari ini, namun kepada kerajaan surgawi yang Paulus jelaskan pada Bacaan Kedua hari ini.

Musa, pembawa Sepuluh Perintah Allah, dan Nabi besar Elia, adalah satu-satunya figur yang memperoleh kesempatan untuk mendengar suara Allah dan melihat kemuliaanNya diatas gunung (lihat Keluaran 24:15-18; 1 Raja 19:8-18).

Apa yang kita lihat pada Injil hari ini hampir menyerupai peristiwa pewahyuan Allah kepada Musa, yang mana wajahnya bersinar terang (lihat Keluaran 34:29). Tetapi saat awan kemuliaan menghilang dalam Injil hari ini,Musa dan Elia sudah hilang. Hanya Yesus yang tersisa. Ia telah membukakan kemulian Trinitas – suara dari Bapa, kemuliaan Sang Putra, dan Roh Kudus yang bersinar dalam awan.

Yesus menggenapi apa yg Musa dan para nabi coba ajarkan dan sampaikan kepada kita mengenai Allah (lihat Lukas 24:27). Ia adalah ‘yang terurapi’ yg dijanjikan oleh Yesaya (lihat Yesaya 42:1; Lukas 23:25), seorang ‘Nabi sepertiku’ yang Musa telah janjikan (lihat Ulangan 18:15; Kisah Para Rasul 3:22-23; 7:37). Dan melebihi semua itu, Ia adalah Putera Allah (lihat Mazmur 2:7; Lukas 3:21-23).

“Dengarkanlah Dia,” kata Suara yang berasal dari awan. Jika, seperti Abraham,kita meletakkan iman kita pada FirmanNya, suatu hari nanti kita juga akan dibawa ke ‘negeri orang-orang hidup’ yang kita nyanyikan dalam Mazmur hari ini. Kita akan mengambil bagian dalam kebangkitanNya, seperti yang Paulus janjikan, tubuh kita yang hina akan dibuat serupa dengan TubuhNya yang mulia.

Sumber : http://www.salvationhistory.com