Perempuan, Ciptaan Tuhan yang Terakhir

mary-baby-jesus

Perempuan, Ciptaan Tuhan Yang Terakhir
Oleh : Richard Salbato

Untuk memahami teologi perempuan, kita harus kembali pada bagian pertama Kitab Suci, yaitu Kitab Kejadian.

Pada hari pertama penciptaan, Tuhan menciptakan cahaya,”Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
Ada dua hal yang menarik dari ayat ini, pertama yaitu Ia tidak menyebutkan bahwa gelap adalah baik, dan hanya gelap lah satu-satunya yang tidak disebut baik. Yang kedua yaitu matahari,bulan,dan bintang belum diciptakan, lalu bagaimana mungkin ada siang dan malam seperti yang kita mengerti? Kita akan kembali lagi ke pertanyaan ini nanti.

Kemudian Tuhan menciptakan cakrawala, air, tanah kering, dan tumbuh-tumbuhan, dan kemudian matahari, bulan, bintang, lalu ikan, burung di udara, dan binatang, setelah itu pada hari ke-6 Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Laki-laki dan Perempuan diciptakanNya mereka.

Kemudian di bab ke-2 kita mendapati catatan kedua mengenai penciptaan manusia. Kejadian 2:7 ,”ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Kemudian Tuhan menciptakan taman Eden dan ditempatkanNya manusia itu disana, bersama dengan Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik dan Jahat. Lalu mengalir sungai yang terbagi menjadi empat cabang. Setelah itu Tuhan memerintahkan manusia itu untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan, “sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17)

Sampai saat itu Tuhan masih belum menciptakan Perempuan.

“Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” (Kejadian 2:21-22). Dan sejak saat itu Tuhan tidak pernah menciptakan apapun lagi. Hukum Termodinamika (sains yang telah terbukti) mengatakan bahwa semua materi tetap sama, dan semua energi tetap sama, oleh karena itu tidak ada sesuatu yang baru yang diciptakan, yang ada hanyalah perubahan bentuk, yaitu bentuk dari energi dan bentuk dari materi. Kesimpulannya, ciptaan terakhir yang Tuhan ciptakan sendiri (tanpa bantuan dari proses alami ataupun kerjasama manusia) adalah Perempuan.

Laki-laki mungkin bergurau bahwa Tuhan menyesal telah menciptakan Perempuan, dan oleh sebab itu Ia mengakhiri PenciptaanNya. Perempuan mungkin bergurau bahwa Tuhan sengaja menyisakan yang terbaik di akhir (yaitu penciptaan perempuan). Jawaban mengenai mengapa Tuhan menciptakan perempuan paling akhir akan menjelaskan siapa sebenarnya perempuan itu. Dan jawaban itu juga datang dari Kitab Suci.

Tuhan memberikan perintah kepada Adam, dan membiarkan Adam menamai semua binatang dan burung dan ikan dan tumbuhan. Namun Adam sendirian di bumi. Lalu Tuhan membuat Adam tidur nyenyak dan kemudian mengambil salah satu rusuk dari padanya untuk menciptakan Hawa. Tuhan menciptakan Hawa dari rusuk Adam. Dan Tuhan tidak menciptakan lagi apapun yang baru semenjak saat itu. Hal terakhir yang diciptakan Tuhan tanpa kerjasama proses alami adalah perempuan. Dengan cara yang sama Tuhan pada akhirnya menciptakan Gereja dari sisi (lambung) Kristus (Yohanes 19:34), hal ini akan disinggung lagi nanti.

Banyak perdebatan oleh para ahli teologi bahwa perempuan memiliki posisi yang lebih rendah dari pria. Lagipula perempuan tidaklah diperkenankan untuk berada di dalam Ruang Maha Kudus. Mereka tidak diperkenankan untuk menjadi imam. Mereka tidak boleh berbicara di dalam Gereja. Mereka dirajam jika berzinah, sementara tidak demikian dengan pria. Dalam Matius 14:21 dan Matius 15:38 laki-laki masuk dalam hitungan, sementara perempuan dan anak-anak tidak. Paulus mengatakan bahwa perempuan harus mengenakan kerudung di dalam Gereja, atau kepalanya harus dicukur. Sekilas terlihat perempuan adalah umat Kristiani kelas ke-2.

Jika para ahli teologi ini benar, maka mereka benar mengenai alasan kerudung. Paulus mengatakan bahwa saat berada di dalam Gereja, perempuan harus menudungi kepalanya di hadapan Tuhan. Banyak yang berpikir bahwa alasan untuk itu adalah sebagai ungkapan kerendahan hati, dan itu adalah alasan yang baik. Kebanggaan seorang wanita terletak pada penampilannya. Bahkan jika ia seorang yang sangat sederhana, kerendahan hati yang melebihi kesederhanaannya membuat ia justru lebih cantik bagi laki-laki. Perempuan menyadari ini secara tidak sadar, dan kerendahan hati memberikan mereka suatu kebanggaan. Untuk alasan ini, mereka mengatakan bahwa Paulus menuntut untuk menutupi kebanggaan yang salah.

Di sisi lain, pria tidak memperoleh kebanggaan dari suatu tindakan kerendahan hati, karena kebanggaan mereka tidak terletak pada penampilan, namun pada kepercayaan diri. Seorang pria, bahkan yang sangat tampan, yang tidak memiliki kepercayaan diri tidaklah menarik bagi wanita.

Ini adalah alasan yang baik, namun bukanlah alasan yang sesungguhnya mengenai kerudung. Dalam Kitab Suci, apakah yang ditudungi (diberi kerudung) ? Tabut Perjanjian ditudungi karena diperintahkan oleh Tuhan. Meja Altar tempat Tabut Perjanjian diletakkan juga ditudungi atas perintah Tuhan. Semuanya, cawan, mangkuk, peralatan, Ruang Maha Kudus, pintu, bahkan keseluruhan tenda, semua yang suci bagi Tuhan diberi kerudung. Bagi Tuhan, apa yang suci haruslah ditudungi. Lalu mengapa wanita ditudungi?

Perempuan adalah tabernakel penciptaan. Tuhan dan wanita bekerja bersama untuk menciptakan seorang manusia dalam gambar dan rupa Allah yang tidak akan mati. Hanya wanita lah yang dapat mencipta bersama dengan Tuhan. Hanya wanita, bahkan tidak juga malaikat, yang dapat memberikan Tuhan sebuah jiwa yang hidup. Hanya wanita yang ambil bagian dalam kekuatan kreatif Tuhan. Hanya wanita yang ambil bagian dalam penderitaan kreatif yang dialami Kristus. Wanita adalah suci bagi Allah, dan oleh sebab itu tidak akan pernah bisa menjadi pelayan sebagaimana pria. Wanita adalah suci, dan karena itu harus diperlakukan secara suci. Ia harus berpakaian kudus, dan dihormati, dan diperhatikan, sama seperti apapun yang kudus adanya.

Dalam kitab Talmud Yahudi (sebelum Babilon) engkau akan mendapati bahwa sepanjang sejarah Yahudi, wanita dihargai secara spesial, diperlakukan secara spesial. Mereka dihormati dengan kehormatan yang spesial. Mereka dilimpahi dengan pemberian, dengan semua pakaian dan barang yang spesial dan sangat mahal, sementara pria hanya mendapatkan apa yang tersisa. Sepanjang sejarah Yahudi sampai saat bangsa Romawi dan kaum Farisi mengambil alih, bangsa Yahudi memperlakukan wanita seperti sesuatu yang suci dan spesial.

Lantas, mengapa hukum mereka mengharuskan wanita untuk dirajam jika kedapatan berzinah? Di dalam seorang wanita, terdapat tabernakel yang sungguh sangat suci bagi Allah. Tabernakel ini memiliki satu-satunya hal yang diinginkan oleh Allah dari kita manusia, yakni jiwa yang tidak akan mati. Sama seperti cawan yang digunakan untuk Tubuh dan Darah Kristus. Jika cawan tersebut ternoda oleh karena suatu hal, makan cawan itu harus dihancurkan dan dikubur. Cawan itu tidak boleh dipergunakan lagi. Pria bukanlah cawan itu. Ia tidak lah suci.

Pria harus mengakui, bahwa wanita jauh lebih pintar daripada mereka. Wanita beranjak dewasa paling tidak sepuluh tahun lebih cepat daripada pria. Wanita jauh lebih sosial. Wanita lebih tangguh, paling tidak dalam menahan luka. Mereka hidup lebih lama. Mereka jauh lebih suci dalam kebanyakan kasus. Mereka lebih beradab. Dan bahkan wanita juga akan mengakui bahwa mereka jauh lebih cantik daripada pria. Malaikat sekalipun tidak dapat melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh wanita, yaitu menciptakan suatu jiwa yang hidup, seorang manusia. Segala yang berhubungan dengan wanita terdengar seperti ciptaan Tuhan yang paling hebat.

Pria diletakkan di atas wanita untuk menjadi otoritas bagi wanita. Terkadang terlintas alasan karena Tuhan tidak memberikan apa-apa lagi kepada pria, sehingga diberikanNya lah kepada pria satu hal yang dapat Ia beri, yaitu otoritas. Perlu diingat bahwa saat Kristus membasuh kaki para rasul, Ia berkata,”Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu.”(Yohanes 13:14). Ia yang adalah otoritas tertinggi adalah pelayan bagi yang lainnya. Pria memiliki otoritas agar ia dapat menjadi pelayan bagi keluarganya. Adalah tugas pria, sama seperti Imam Agung, untuk melindungi wanita dan anak-anaknya. Ia harus menyediakan penghidupan bagi mereka, melindungi mereka dari bahaya. Menghormati mereka dengan apapun yang bisa ia berikan. Wanita harus dibiarkan membesarkan dan mendidik anak-anak secara sosial, dan secara tidak langsung merawat dan menciptakan masa depan dunia.

Keluarga itu mirip seperti sekotak berlian. Pria adalah bungkus kotak yang membungkus segalanya untuk tetap bersama. Sementara wanita dan anak-anak adalah berlian nya. Saat bungkus kotak nya dibuka, berlian akan berserakan. Saat wanita ingin menjadi kotak nya, maka yang ada hanyalah dua kotak yang kosong. Kitab Suci memperhitungkan kotak nya, dan bukan berlian nya, karena Tuhan mencintai kesatuan unit keluarga.

Wanita patut mematuhi suaminya untuk alasan yang sama seperti prajurit patut mematuhi kapten atau atasannya. Ia harus memiliki otoritas itu dengan tujuan melindungi nyawa anak buahnya. Begitu juga dengan pria harus memiliki otoritas itu untuk melindungi keluarganya. Pria harus mengasihi istrinya sama seperti Kristus mengasihi GerejaNya, dan ini adalah misteri yang sangat besar, dalam hubungannya dengan Gereja. Apakah yang dimaksudkan oleh Paulus tentang misteri besar? Saat Allah meraih ke dalam hati Adam yang tertidur dan menarik keluar ciptaanNya yang terbaik (Kejadian 2:21-23), Ia memberikan bayangan akan saat-saat dimana Ia meraih ke dalam hati Kristus saat Ia ‘tertidur’, dan dari situ menciptakan GerejaNya (Yohanes 19:34). Pria harus mengasihi dan melindungi, memperlakukan wanita dengan cara yang sama seperti Kristus mengasihi GerejaNya, yang diciptakan dari HatiNya sendiri.

Perintah ke-4 dari Sepuluh Perintah Allah menuntut kita untuk mematuhi segala otoritas dalam segala hal kecuali dosa, karena segala otoritas datang dari Tuhan, bahkan otoritas yang buruk sekalipun. Begitulah pengajaran Gereja. Untuk keluarga, kita harus mencontoh keluarga terbaik sebagai panutan, yaitu Keluarga Kudus Nazareth. Yang paling kecil dan terakhir dalam keluarga, St.Yusuf, adalah yang paling tinggi dalam otoritas. Sementara yang terbesar, Kristus (Tuhan), adalah yang paling terakhir dalam otoritas. Maria yang merupakan ciptaan terbaik dan yang akan menjadi Ratu Surga dan Bumi, mematuhi Yusuf dalam segala hal. Maka marilah kita mengikuti contoh yang diberikan Kristus sendiri dalam mematuhi ibu kita.

Kristus berusia duabelas tahun saat Ia hilang dan tinggal di Bait Allah. Tiga hari kemudian orang tuaNya, yakni Yusuf dan Maria menemukanNya di dalam Bait Allah. “Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau. Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?””(Lukas 2:48-49, berada di dalam rumah Bapa juga memiliki arti lain,yaitu melakukan hal-hal/urusan milik Bapa). Kita tidak mengetahui apa jawaban Maria kepadaNya. Yang kita ketahui dari Kitab Suci hanya lah bahwa ” lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.”(Lukas 2:51).

Yang menarik disini yaitu Ia tidak lagi pergi untuk melakukan urusan BapaNya selama 18 tahun berikutnya.

Jadi apakah sesungguhnya yang Maria katakan padaNya? Kita mengetahui dari lukisan-lukisan karya St.Lukas bahwa Maria mengetahui betul kalau Yesus harus pergi melakukakn hal-hal/urusan BapaNya, dan salah satu hal tersebut adalah untuk menjadi domba kurban.

Maka 18 tahun kemudian, Maria datang kepada Kristus dan berkata, “Mereka kehabisan anggur.” Jawaban Yesus dalam bahasa Yunani adalah keseluruhan misteri dari wanita. Dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan langsung, kira-kira jawabanNya akan berbunyi, “Apakah antara Aku denganmu, perempuan?”. Dalam bahasa modern akan berbunyi, “Bagaimana dengan perjanjian di antara Aku denganmu.”

Dengan kata lain, 18 tahun sebelumnya, Maria berkata kepada Kristus sesuatu seperti berikut ini, walaupun bukan dalam kata-kata, “Anakku, Engkau selalu mematuhi perintah-perintahMu sebagai contoh bagi yang lain. Aku berharap Engkau untuk berpegang pada Perintah ke-4 dari Sepuluh Perintah Allah untuk menghormati orang tuaMu dan tidak pergi lagi untuk urusan BapaMu hingga aku mengijinkanMu.”

Dan 18 tahun berlalu, Kristus berbicara kepada ibuNya, “Apakah engkau sekarang mengijinkanKu untuk melakukan urusan BapaKu?”. Dengan air mata menggenang di matanya, Maria mengetahui bahwa ia tidak mampu menahanNya lebih lama lagi. Dan Maria berkata, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5). Setelah itu Kristus mengubah air menjadi anggur sebagai yang pertama dari tanda-tandaNya, dan mulai melakukan urusan BapaNya.

Kristus datang ke dunia dengan Maria berkata “Ya!” kepada malaikat. Tanpa “Ya!” Dari Maria, kita belum bisa diselamatkan. Tanpa Maria berkata, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, kita belum bisa diselamatkan.

Lihatlah Keluarga Kudus Nazareth. Yang pertama adalah yang terakhir, dan yang terakhir adalah yang pertama. Mereka yang memiliki otoritas adalah pelayan bagi yang mereka lindungi. Paus, Bapa Suci kita, secara resmi disebut sebagai ‘pelayan bagi para pelayan Tuhan’ (Inggris: servant of the servants of God – Latin: servus servorum Dei). Apa lagi yang kurang jelas dari contoh itu mengenai otoritas.

Jadi bagi anda wanita muda, angkatlah kepalamu tinggi, menyadari bahwa Tuhan menciptakanmu di akhir karena Ia menciptakanmu sebagai yang terbaik. Janganlah merasa janggal untuk berpakaian dengan baik, dengan keanggunan dan martabat dan kesopanan, sama seperti imam menghiasi altar Tuhan kita. Tubuhmu ini adalah suci bagi Tuhan, dan sepantasnya diperlakukan secara suci.

Bagi anda ibu dari anak-anak, angkatlah kepalamu tinggi, menyadari bahwa engkau menghadirkan ke dalam dunia satu-satunya yang diinginkan Tuhan dari ciptaanNya, jiwa hidup yang tidak akan pernah mati. Pria tidak ada hubungannya dengan hal ini selain menanamkan benih. Saat pria sudah beranjak, Tuhan mengerjakan keajaibanNya di tabernakel rahim anda dan menciptakan sebuah jiwa yang dapat Ia cintai selamanya.

Bagi anda pria muda, peluklah wanita dengan kekaguman. Saat engkau melihat matanya, pandanglah dengan hormat dan bahkan dengan semacam kecemburuan, menyadari bahwa engkau telah diberi perintah untuk menjaga mereka. Ketahuilah bahwa sebelum engkau diciptakan, Tuhan sudah mengenalmu, dan jika Ia menginginkan engkau untuk menikah, Ia sudah memilih pasangan hidup bagimu bahkan sebelum engkau lahir. Apabila engkau berzinah dengan seorang wanita, engkau tidak hanya melakukan dosa sakrilegi terhadap tabernakel penciptaan milik Allah, namun engkau juga berselingkuh dari seorang istri yang bahkan engkau belum temui. Sangatlah bijak bagimu untuk berkata kepada calon istrimu :
“Aku telah setia kepadamu sepanjang hidupku, bahkan sebelum aku bertemu denganmu, karena aku tahu bahwa Tuhan memilihmu untukku. Aku telah mencintaimu bahkan sebelum aku bertemu denganmu, dan akan tetap begitu di sisa-sisa hari dalam hidupku.”

Bagi anda para suami, ingatlah St.Yusuf. Ia adalah yang pertama dalam otoritas, namun yang terakhir di mata Allah dan dalam rahmat. St.Yusuf dipilih untuk menjaga dan merawat berlian, yaitu Maria dan Yesus. Engkau harus memperlakukan istrimu dengan hormat dan bahkan dengan kagum. Sediakanlah kebutuhan mereka, lindungi mereka, dan jangan pernah membiarkan anak-anak anda untuk memperlakukan istri anda dengan tidak hormat. Berdirilah saat mereka memasuki ruangan. Tunggulah mereka saat anda di meja makan. Pastikan bahwa mereka mendapatkan segala yang dibutuhkan dalam melakukan hal terbaik yang dapat mereka lakukan, yaitu mensosialisasikan dunia. Wanita adalah sosial, sementara pria adalah binatang. Wanita mencintai dan merawat, pria adalah petarung; dan sudah seharusnya pria seperti itu, karena dengan cara itulah pria melindungi ‘berliannya’.

Pada tahap ini, mari kita kembali pada bagian yang sempat kita bicarakan di awal, yaitu pada hari pertama Penciptaan. Tuhan menciptakan terang dan Ia melihat terang itu baik. Lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap, tetapi Ia tidak menyebut bahwa gelap itu baik. Kegelapan ini (tidak sama dengan gelap dari siang dan malam) adalah satu-satunya dalam penciptaan yang tidak disebut baik oleh Tuhan. Ia belum menciptakan bintang, bulan, dan matahari. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kita menemukan jawabannya di Kitab Wahyu 11:19 dan 12:1.

“Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”

Sebelum bumi diciptakan, Tuhan menciptakan terlebih dahulu malaikat, dan Ia memberikan mereka satu ujian. Ia menunjukkan kepada mereka sebuah tanda (bukan hal sesungguhnya, tapi pertanda tentang apa yang akan datang), tabut yang akan membawa PuteraNya, seorang wanita yang berselubungkan segala rahmat. Dan Setan memberontak terhadap pertanda ini, lalu seperti kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat, “Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.” (Wahyu 12:4). “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” (Wahyu 12:17).

Perempuan tidak memiliki benih, namun di Kejadian 3:15 Tuhan mengatakan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya.” Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk ‘keturunan’ adalah ‘zara’ yang lebih tepat diartikan sebagai ‘benih’. Iblis tidak memiliki benih, begitu juga dengan wanita. Hanya pria yang memiliki benih. Namun dalam hal ini Kristus lahir ke dunia tanpa campur tangan pria, dan oleh sebab itu semua anak-anak Allah datang dari Maria tanpa bantuan (benih) seorang pria. Anak-anak (benih) Maria adalah mereka yang menjaga dan mematuhi perintah Puteranya, dan benih Setan adalah mereka yang melanggar perintah Puteranya. Salah satu perintahNya yaitu untuk menghormati (dalam bahasa Ibrani :kabed) ayah dan ibumu. ‘Kabed’ dalam bahasa Ibrani adalah jenis penghormatan yang berbeda dengan ‘hadar’, karena ‘kabed’ hanya diperuntukkan kepada Tuhan,ayah,dan ibu saja (salah satu penggunaan ‘kabed’ adalah pada Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”). Kabed’ artinya penghormatan yang tinggi, memuliakan dan memuja. Kita harus memperlakukan istri dan ibu kita dengan sangat hormat, sama seperti sikap kita jika berhadapan dengan Tuhan, atau saat kita berhadapan dengan Cawan Suci yang membawa darah Kristus, karena perempuan adalah cawan suci penciptaan.

Sumber : http://www.unitypublishing.com

About these ads

Tag:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: